GAPKINDO Soroti Ancaman El Niño 2026 terhadap Industri Karet Nasional
Medan, 17 Mei 2026 — Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) menyelenggarakan webinar bertajuk Dinamika Iklim dan Hubungannya dengan Produksi Karet Nasional pada 30 April 2026 dengan menghadirkan dua narasumber profesional di bidang karet dan iklim, yakni Dr. Tri Rapani Febbiyanti dari Pusat Penelitian Karet serta Dr. Dodo Gunawan dari STMKG-BMKG.
Dalam paparannya, Dr. Dodo Gunawan menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi fenomena El Niño mulai pertengahan 2026 dengan peluang yang cukup tinggi. BMKG memprediksi kondisi El Niño mulai berkembang pada Mei–Juni 2026 dan dapat berlangsung hingga semester kedua tahun 2026.
Ia menyampaikan bahwa probabilitas El Niño meningkat signifikan memasuki periode Juli hingga akhir tahun 2026. Kondisi tersebut diperkirakan memicu penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi. Webinar juga menyoroti istilah populer “Godzilla El Niño” yang digunakan untuk menggambarkan potensi El Niño sangat kuat dengan dampak kekeringan ekstrem dan peningkatan risiko kebakaran hutan maupun lahan.
Sementara itu, Dr. Tri Rapani Febbiyanti memaparkan bahwa perubahan iklim serta serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis telah memberikan tekanan besar terhadap produktivitas karet nasional dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dipaparkan, produktivitas karet menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun 2017, terutama pada periode dengan gangguan iklim dan serangan penyakit daun.
Menurutnya, kondisi kekeringan akibat El Niño dapat menurunkan produksi lateks hingga 50 persen akibat terganggunya proses fisiologis tanaman karet. Kekeringan berkepanjangan juga dapat memicu stres oksidatif, gugur daun, kering alur sadap (KAS), hingga meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit akar.
Meski demikian, kondisi kering pada saat El Niño diperkirakan dapat menekan perkembangan beberapa penyakit gugur daun seperti Pestalotiopsis, Colletotrichum, Oidium heveae, dan Corynespora cassiicola karena tingkat kelembaban yang lebih rendah.
Sebagai langkah antisipasi, webinar GAPKINDO juga membahas berbagai strategi mitigasi untuk mempertahankan produktivitas kebun karet di tengah ancaman kekeringan. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain penggunaan rorak untuk konservasi air, irigasi, penggunaan mulsa organik dan tanaman penutup tanah (LCC), inokulasi mikoriza, penggunaan biofertilizer, hingga pemanfaatan klon karet toleran kekeringan.
Melalui webinar ini, GAPKINDO berharap pelaku industri karet nasional dapat lebih siap menghadapi dinamika iklim tahun 2026 serta melakukan langkah adaptasi sejak dini guna menjaga keberlanjutan produksi karet nasional.