Harga Karet Ambruk! SICOM TSR20 Terjun ke Kisaran 207 Sen, Pasar Dihantam Gelombang Panic Selling
Medan, 26 Juni 2026 – Pasar karet alam global mengalami tekanan jual yang sangat besar pada perdagangan Kamis (25/6). Kontrak berjangka karet di berbagai bursa utama Asia kompak mengalami koreksi tajam, dipicu kombinasi sentimen makroekonomi, membaiknya prospek pasokan, hingga aksi likuidasi besar-besaran oleh pelaku pasar.
Pada perdagangan pagi yang dipantau pukul 08.53 WIB, kontrak SICOM TSR20 Juli di Singapore Exchange (SGX) merosot ke 207,5 sen/kg, turun 3,3 sen dibandingkan sesi sebelumnya. Di China, kontrak aktif RSS3 (RU) September di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga melemah menjadi 16.580 yuan/ton, turun 395 yuan atau sekitar 2,3%.
Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Berdasarkan data historis SICOM TSR20, harga penutupan turun dari 231,6 sen/kg pada 16 Juni menjadi 210,8 sen/kg pada 25 Juni, atau terkoreksi sekitar 9% hanya dalam tujuh sesi perdagangan. Jika mengacu pada harga intraday pagi di level 207,5 sen/kg, koreksi telah mendekati 10,5% dari puncak pertengahan Juni.
Gelombang Koreksi Dipicu Tiga Faktor Besar
Tekanan kali ini bukan semata-mata berasal dari satu faktor, melainkan akibat bertemunya beberapa sentimen negatif dalam waktu bersamaan.
Faktor pertama berasal dari kondisi makro global. Penguatan indeks dolar AS membuat aset-aset berbasis komoditas menjadi kurang menarik bagi investor. Pada saat yang sama, harga minyak mentah ikut melemah sehingga memicu aksi pengurangan posisi pada berbagai komoditas, termasuk karet. Reuters juga melaporkan bahwa penguatan dolar dan meningkatnya pasokan Thailand menjadi pemicu utama pelemahan harga karet di Jepang dan kawasan Asia. (Trading Economics)
Faktor kedua berasal dari sisi fundamental pasokan. Memasuki pertengahan tahun, negara-negara produsen utama seperti Thailand, Vietnam, dan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki periode produksi yang lebih tinggi. Pasokan bahan baku meningkat sehingga kekhawatiran terhadap kekurangan suplai mulai berkurang. Laporan berbagai lembaga pasar juga menunjukkan meningkatnya pengiriman karet Thailand ke China, sementara ANRPC memperkirakan produksi karet alam dunia tahun 2026 naik sekitar 2,4%, memperkuat ekspektasi surplus pasokan. (Trading Economics)
Di sisi lain, permintaan industri ban belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Aktivitas pabrik ban di China masih relatif terbatas setelah periode perawatan (maintenance), sementara pembelian bahan baku cenderung hanya untuk kebutuhan jangka pendek. Kondisi tersebut membuat kenaikan pasokan tidak diimbangi peningkatan konsumsi.
Panic Selling Mempercepat Penurunan
Selain faktor fundamental, pola perdagangan menunjukkan indikasi kuat terjadinya panic selling.
Banyak pelaku pasar yang sebelumnya membeli pada kisaran 225–233 sen/kg mulai menutup posisi ketika harga menembus area support penting sekitar 220 sen/kg. Penembusan support tersebut memicu stop-loss otomatis sehingga tekanan jual semakin membesar.
Fenomena seperti ini umum terjadi pada pasar berjangka, di mana penurunan harga yang tajam sering kali diperburuk oleh aksi likuidasi posisi secara bersamaan. Akibatnya, kecepatan penurunan jauh lebih besar dibandingkan perubahan fundamental sebenarnya.
Analisis Teknikal: Oversold, Namun Belum Ada Konfirmasi Pembalikan
Grafik terbaru yang Anda kirimkan memperlihatkan bahwa indikator momentum sudah memasuki wilayah oversold, sementara harga bergerak jauh di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan jual sudah sangat berlebihan. Namun demikian, indikator teknikal juga belum menunjukkan adanya sinyal pembalikan (reversal) yang kuat. Dengan kata lain, pasar memang sudah murah secara teknikal, tetapi pembeli belum menunjukkan dominasi.
Situasi seperti ini sering menghasilkan dua kemungkinan, yakni terjadi technical rebound dalam jangka pendek atau harga masih melanjutkan pelemahan sebelum menemukan dasar yang lebih kuat.
Peluang Pergerakan Hingga Akhir Pekan
Apabila tekanan jual mulai mereda pada perdagangan Jumat, peluang technical rebound tetap terbuka karena posisi pasar telah memasuki area jenuh jual (oversold). Namun apabila sentimen negatif global masih mendominasi dan tidak muncul pembelian baru dari investor institusi, harga masih berpotensi menguji level support berikutnya.
Secara teknikal, area 205–208 sen/kg kini menjadi zona penyangga pertama yang sangat penting. Jika area tersebut mampu bertahan, harga berpeluang melakukan rebound menuju kisaran 211–215 sen/kg menjelang penutupan pekan.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan level 205 sen/kg ditembus secara meyakinkan, maka pasar dapat bergerak menuju 200–203 sen/kg, yang merupakan area psikologis sekaligus support penting berikutnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal yang sudah oversold, peluang terbesar untuk perdagangan akhir pekan masih mengarah pada konsolidasi di kisaran 205–212 sen/kg, disertai volatilitas yang tetap tinggi. Rebound jangka pendek masih mungkin terjadi, tetapi selama harga belum mampu kembali menembus area 220 sen/kg, tren jangka pendek masih cenderung bearish.