|  
The EUDR has been postponed for the second time and will now take effect on 30 December 2026 for large enterprises (as operators) and 30 June 2027 for small businesses (SMEs).
News Icon

LATEST NEWS

Rubber Prices Hit by Heavy Selling: Is the Correction Nearing an End or Will the Downtrend Continue?

Rubber Prices Hit by Heavy Selling: Is the Correction Nearing an End or Will the Downtrend Continue?

Medan, 29 Juni 2026 – Pasar karet alam masih berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Setelah mengalami aksi jual tajam pada pekan lalu, kontrak Juli SICOM TSR20 di Singapore Exchange (SGX) kembali diperdagangkan dan pada pukul 09.49 WIB terpantau berada di level 206,0 sen/kg, turun 2,6 sen atau 1,25% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, kontrak RSS3 di Shanghai Futures Exchange (SHFE) untuk bulan September, yang masih menjadi kontrak teraktif, juga bergerak melemah ke 16.490 yuan/ton, turun 125 poin. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen negatif masih membayangi pasar karet Asia pada awal pekan.

Weekly Review: Koreksi Terbesar Tahun Ini

Pekan lalu menjadi salah satu periode terburuk bagi pasar karet sepanjang tahun 2026. Dalam waktu hanya dua hari perdagangan, harga SICOM TSR20 merosot sekitar 14,3 sen/kg atau lebih dari 6 persen, sekaligus menghapus sebagian besar kenaikan yang telah terbentuk sejak awal Mei.

Apabila dibandingkan dengan posisi tertinggi tahun ini sebesar 234,5 sen/kg yang tercapai pada awal Juni, maka koreksi hingga penutupan Jumat telah mencapai sekitar 11 persen. Penurunan tersebut membawa harga kembali ke kisaran awal Mei dan mematahkan tren kenaikan yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Meskipun demikian, harga saat ini masih berada jauh di atas posisi awal tahun yang berada di kisaran 181–185 sen/kg, sehingga secara jangka panjang tren kenaikan belum sepenuhnya berakhir. Koreksi kali ini lebih menunjukkan proses penyesuaian harga setelah reli panjang dibandingkan perubahan fundamental menjadi tren bearish jangka panjang.

Belum Sedalam Kejatuhan Akibat Kebijakan Tarif AS pada April 2025

Walaupun pelemahan pekan lalu tergolong sangat tajam, besarnya koreksi tersebut masih belum menyamai gejolak yang terjadi pada awal April 2025, ketika pasar global terguncang setelah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang memicu aksi jual besar-besaran di berbagai pasar komoditas dan keuangan.

Data historis perdagangan menunjukkan bahwa harga SICOM TSR20 turun dari 193,1 sen/kg pada 2 April 2025 menjadi 157,9 sen/kg pada 9 April 2025, atau merosot sekitar 35,2 sen/kg atau 18,2 persen hanya dalam beberapa hari perdagangan. Penurunan tersebut hampir tiga kali lebih besar dibandingkan koreksi sekitar 6 persen yang terjadi pada dua hari perdagangan terakhir pekan lalu.

Perbedaan lainnya terletak pada karakter pelemahannya. Pada April 2025, tekanan jual dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap perang dagang dan perlambatan ekonomi global sehingga hampir seluruh aset berisiko mengalami aksi jual serentak (risk-off). Sebaliknya, koreksi yang terjadi pada akhir Juni 2026 lebih didorong oleh kombinasi faktor fundamental pasar, sehingga lebih mencerminkan proses penyesuaian harga setelah reli panjang dibandingkan kepanikan pasar secara global.

Kombinasi Sentimen Negatif Menekan Pasar

Koreksi tajam yang terjadi pada pekan lalu tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan akumulasi berbagai sentimen negatif yang muncul hampir bersamaan.

Faktor pertama berasal dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Setelah risiko konflik mulai berkurang, harga minyak mentah dunia kembali melemah sehingga premi risiko yang sebelumnya menopang harga berbagai komoditas ikut menghilang. Turunnya harga minyak secara langsung menekan biaya produksi karet sintetis sehingga daya saingnya kembali meningkat.

Sentimen berikutnya datang dari pasar Butadiene Rubber (BR) di China. Harga BR telah kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah setelah harga bahan baku butadiene mengalami penurunan cukup tajam. Persediaan butadiene di pelabuhan masih tinggi, sementara tingkat operasi pabrik meningkat sehingga pasokan terus bertambah. Di sisi lain, permintaan industri ban sedang memasuki musim sepi (low season) sehingga sebagian besar produsen hanya melakukan pembelian bahan baku sesuai kebutuhan.

Kondisi tersebut menyebabkan harga karet sintetis terus mengalami tekanan, yang pada akhirnya ikut menyeret sentimen terhadap pasar karet alam.

Di sisi lain, aksi ambil untung (profit taking) juga menjadi faktor yang mempercepat pelemahan. Setelah SICOM TSR20 sempat menyentuh 234,5 sen/kg, level tertinggi sepanjang tahun ini, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan sehingga tekanan jual semakin besar ketika sejumlah level support teknikal berhasil ditembus.

Industri Ban Menghadapi Paradoks

Menariknya, di tengah pelemahan harga bahan baku, produsen ban justru masih menaikkan harga jual produknya.

Laporan media keuangan China menyebutkan bahwa sejak Maret hingga Juni lebih dari 80 perusahaan ban telah menerbitkan pemberitahuan kenaikan harga antara 2 hingga 6 persen. Gelombang kenaikan tersebut dilakukan oleh berbagai produsen besar seperti Hankook, Dunlop, Michelin, Bridgestone, Sailun, Linglong hingga Zhongce Rubber.

Kenaikan harga bukan disebabkan oleh lonjakan harga karet saat ini, melainkan sebagai penyesuaian terhadap biaya produksi yang meningkat beberapa bulan sebelumnya ketika harga karet alam, karet sintetis, dan carbon black berada pada level yang jauh lebih tinggi. Namun lemahnya permintaan di tingkat distributor menyebabkan sebagian besar kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dapat diteruskan kepada konsumen akhir.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya jeda antara biaya produksi dan harga jual di pasar. Di satu sisi produsen berusaha mempertahankan margin keuntungan, sementara di sisi lain lemahnya permintaan membuat ruang untuk menaikkan harga menjadi sangat terbatas.

Prospek Ekspor Masih Menjadi Penopang

Di tengah tekanan harga, perdagangan internasional masih memberikan sinyal positif. India untuk pertama kalinya mulai mengekspor karet alam dari negara bagian Tripura ke Nepal. Walaupun volume awal baru sekitar 18 ton, langkah tersebut menunjukkan mulai terbukanya pasar baru di kawasan Asia Selatan yang selama ini lebih banyak mengandalkan pasokan dari Vietnam dan Malaysia.

Sementara itu, ekspor ban China juga masih menunjukkan pertumbuhan volume ke berbagai negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga konsumsi karet alam dalam jangka menengah meskipun permintaan domestik China sedang melemah.

Analisis Teknikal: Support 205–206 Sen Mulai Diuji

Secara teknikal, pelemahan tajam pada akhir pekan lalu telah membentuk pola bearish yang cukup kuat setelah beberapa level support penting berhasil ditembus. Garis rata-rata bergerak jangka pendek juga telah memotong ke bawah rata-rata jangka menengah, sementara indikator MACD masih menunjukkan momentum negatif yang mengindikasikan tekanan jual belum sepenuhnya berakhir.

Namun demikian, laju penurunan yang sangat cepat juga telah membawa indikator momentum memasuki area oversold, sehingga peluang munculnya technical rebound mulai meningkat apabila tekanan jual mulai mereda.

Perdagangan Senin pagi yang bergerak di sekitar 206 sen/kg menunjukkan bahwa pasar kini sedang menguji area support penting 205–206 sen/kg. Zona ini diperkirakan menjadi penentu arah perdagangan dalam beberapa hari ke depan.

Apabila area tersebut mampu dipertahankan, harga berpeluang melakukan pemulihan menuju kisaran 212–216 sen/kg, kemudian menguji kembali area 220 sen/kg. Sebaliknya, apabila support tersebut ditembus, tekanan jual diperkirakan masih dapat berlanjut menuju area psikologis 200–202 sen/kg, yang menjadi level support kuat berikutnya.

Outlook Pekan Ini

Secara keseluruhan, sentimen fundamental jangka pendek masih cenderung berhati-hati. Pelemahan harga minyak dunia, turunnya harga karet sintetis, tingginya pasokan bahan baku di China, serta lemahnya permintaan industri ban masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang kenaikan harga.

Di sisi lain, koreksi yang sangat tajam dalam beberapa hari terakhir juga mulai membuka peluang munculnya aksi beli spekulatif (technical rebound), terutama apabila tekanan jual mulai mereda dan harga mampu bertahan di atas area support utama.

Dengan mempertimbangkan kondisi fundamental dan teknikal, SICOM TSR20 diperkirakan bergerak dalam kisaran 205–216 sen/kg sepanjang pekan ini dengan kecenderungan konsolidasi. Selama harga mampu bertahan di atas 205 sen/kg, peluang pemulihan menuju 212–220 sen/kg masih terbuka. Namun apabila level tersebut gagal dipertahankan, pasar berpotensi menguji kembali area psikologis 200 sen/kg sebelum membentuk keseimbangan harga yang baru.

Pergerakan perdagangan beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting untuk menentukan apakah pelemahan tajam yang terjadi sejak pekan lalu hanya merupakan koreksi sehat setelah reli panjang, atau berkembang menjadi awal tren penurunan yang lebih panjang pada paruh kedua tahun 2026.

◆ ◆ ◆

SEKRETARIAT PUSAT

Jl. Cideng Barat No. 62-A, Jakarta 10150
☎️ (62-21) 3501510, 3501511, 2846813
📠 (62-21) 3846811, 3500368
🌐 http://www.gapkindo.org
📧 karetind@indosat.net.id

GAPKINDO SUMUT

Kompleks Taman Tomang Elok
Blok I No. 41/156
Jl. Jend. Gatot Subroto – Sei Sikambing
Medan 20122 - ☎️ (62-61) 8468819
📧 gapkindosu.office@gmail.com

PETA LOKASI