|  
EUDR kembali ditunda untuk kedua kalinya sehingga akan berlaku mulai 30 Desember 2026 untuk perusahaan besar (selaku operator) dan 30 Juni 2027 untuk usaha kecil (selaku UKM).
Ikon Berita

BERITA TERKINI

Industri Karet Dunia Memasuki Babak Baru, Pasokan Menyusut dan Pasar Hilir Makin Menentukan

Industri Karet Dunia Memasuki Babak Baru, Pasokan Menyusut dan Pasar Hilir Makin Menentukan

Medan, 10 Agustus 2026 — Industri karet dunia mulai menghadapi perubahan yang lebih struktural. Persoalannya bukan lagi semata-mata mengenai harga, tetapi juga menyangkut pasokan bahan baku, perubahan pola perdagangan, perkembangan industri hilir serta tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat.

Di negara-negara produsen utama, perubahan tersebut mulai terlihat. Indonesia menghadapi penyusutan areal dan produksi karet akibat sebagian petani beralih ke kelapa sawit. Vietnam mulai memperlihatkan pergeseran dari ekspor karet mentah ke pasar domestik dan produk olahan, sementara Malaysia memperkuat strategi keberlanjutan dan ketertelusuran untuk mempertahankan akses pasar global.

Perubahan tersebut terjadi ketika keseimbangan pasar global masih cenderung ketat. Data yang dikutip dari Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC) memperkirakan produksi karet alam dunia pada 2026 sekitar 15,34 juta ton, sedangkan permintaan mencapai sekitar 15,55 juta ton. Artinya, pasar berpotensi mengalami defisit sekitar 210 ribu ton.

Indonesia Menghadapi Tekanan dari Sisi Produksi

Salah satu persoalan terbesar berada di sektor hulu Indonesia.

Luas perkebunan karet Indonesia dilaporkan turun dari sekitar 3,78 juta hektare pada 2021 menjadi sekitar 3,13 juta hektare pada 2026, atau menyusut sekitar 17 persen. Produksi juga diperkirakan turun dari lebih dari 3 juta ton menjadi sekitar 2 juta ton dalam periode tersebut.

Peralihan dari karet ke sawit dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tingkat keuntungan hingga persoalan tenaga penyadap. Tanaman karet membutuhkan penyadapan rutin, sementara ketersediaan tenaga kerja terampil semakin menjadi persoalan bagi sebagian petani.

Jika tren tersebut berlanjut, dampaknya tidak hanya terhadap petani Indonesia, tetapi juga terhadap pasokan karet alam dunia.

Keterbatasan pasokan Indonesia bahkan mulai memengaruhi pola pengadaan industri ban. Material karet Indonesia dalam beberapa pekan terakhir disebut diperdagangkan setara atau bahkan dengan premium terhadap material Thailand, menunjukkan semakin pentingnya ketersediaan karet Indonesia di pasar global.

Vietnam Mulai Menggeser Fokus ke Pasar Domestik dan Produk Olahan

Perubahan berbeda terlihat di Vietnam. Perusahaan karet di negara tersebut mampu mencatat pertumbuhan laba meskipun ekspor karet mentah mengalami penurunan.

Harga jual yang lebih tinggi membantu mengompensasi penurunan volume ekspor. Namun yang lebih menarik adalah meningkatnya peran pasar domestik dan produk karet olahan.

Dong Phu Rubber, misalnya, mencatat penjualan domestik yang melonjak pada semester pertama 2026. Penjualan dalam negeri menyumbang hampir 82 persen dari total penjualan perusahaan tersebut, meningkat dari sekitar 65 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, ekspor produk karet Vietnam meningkat dua digit, sementara ekspor karet mentah mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa produsen mulai memiliki saluran lain untuk menyerap produksi, tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.

Perkembangan industri ban di dalam negeri menjadi salah satu faktor pendukung perubahan tersebut.

Pasar Hilir Semakin Penting

Industri ban tetap menjadi konsumen terbesar karet alam dunia, dengan pangsa lebih dari 60 persen permintaan global. China sendiri menyumbang sekitar 40–47 persen konsumsi karet alam dunia.

Karena itu, perkembangan industri ban akan menjadi salah satu penentu utama permintaan karet ke depan.

Jika pasar domestik dan industri pengolahan di negara produsen terus berkembang, produsen karet memiliki alternatif untuk menyerap hasil produksi selain menjual bahan mentah ke pasar ekspor.

Perubahan tersebut juga berarti bahwa nilai tambah menjadi semakin penting. Negara produsen tidak cukup hanya mempertahankan produksi, tetapi juga perlu meningkatkan kemampuan mengolah karet menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Malaysia Bersiap Menghadapi Era Karet Berkelanjutan

Sementara itu, Malaysia mengambil pendekatan melalui penguatan aspek keberlanjutan dan ketertelusuran.

Pasar Eropa semakin menuntut bukti mengenai asal bahan baku, lokasi perkebunan dan kepatuhan terhadap prinsip bebas deforestasi. Kondisi ini semakin penting menjelang penerapan ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Malaysia telah menerapkan Malaysian Sustainable Natural Rubber (MSNR) yang mencakup antara lain aspek bebas deforestasi, kepatuhan lingkungan dan sosial serta traceability.

Sistem tersebut memungkinkan perjalanan karet dilacak mulai dari petani, pedagang dan pengolah hingga produsen.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa persaingan karet global ke depan tidak hanya mengenai harga dan volume, tetapi juga mengenai kemampuan membuktikan bahwa produk berasal dari sumber yang berkelanjutan dan dapat ditelusuri.

Pasokan, Hilirisasi dan Keberlanjutan

Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri karet dunia sedang memasuki babak baru.

Di sisi hulu, penyusutan perkebunan dan produksi Indonesia menjadi salah satu risiko terhadap pasokan global. Di sisi lain, Vietnam memperlihatkan bahwa pasar domestik dan produk olahan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ketika ekspor bahan mentah menghadapi tekanan.

Sementara Malaysia menunjukkan semakin pentingnya keberlanjutan dan ketertelusuran untuk mempertahankan akses ke pasar premium.

Dengan proyeksi permintaan global yang masih lebih tinggi daripada produksi, persaingan mendapatkan bahan baku karet berpotensi semakin kuat.

Karena itu, masa depan industri karet dunia kemungkinan tidak lagi hanya ditentukan oleh berapa banyak karet yang diproduksi, tetapi juga oleh kemampuan negara produsen mempertahankan petani, menjaga pasokan, mengembangkan industri hilir dan memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk yang berkelanjutan.

Industri karet pun perlahan bergeser: dari sekadar menjual bahan mentah menuju persaingan menguasai pasokan, pasar hilir, nilai tambah dan keberlanjutan.

◆ ◆ ◆

SEKRETARIAT PUSAT

Jl. Cideng Barat No. 62-A, Jakarta 10150
☎️ (62-21) 3501510, 3501511, 2846813
📠 (62-21) 3846811, 3500368
🌐 http://www.gapkindo.org
📧 karetind@indosat.net.id

GAPKINDO SUMUT

Kompleks Taman Tomang Elok
Blok I No. 41/156
Jl. Jend. Gatot Subroto – Sei Sikambing
Medan 20122 - ☎️ (62-61) 8468819
📧 gapkindosu.office@gmail.com

PETA LOKASI