|  
EUDR kembali ditunda untuk kedua kalinya sehingga akan berlaku mulai 30 Desember 2026 untuk perusahaan besar (selaku operator) dan 30 Juni 2027 untuk usaha kecil (selaku UKM).
Ikon Berita

BERITA TERKINI

Block Skim Rubber Kian Berkembang, Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Harga Karet Dunia?

Block Skim Rubber Kian Berkembang, Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Harga Karet Dunia?

Medan, 26 Agustus 2026 – Di tengah menguatnya harga karet alam dunia sepanjang 2026, pelaku industri mulai kembali menyoroti meningkatnya produksi Block Skim Rubber (BSR), yaitu produk karet yang dihasilkan dari skim latex, hasil samping (by-product) proses pengolahan lateks pekat.

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi Block Skim Rubber meningkat di sejumlah negara produsen utama seperti Thailand dan Malaysia seiring berkembangnya industri pengolahan lateks pekat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku industri, apakah tambahan pasokan Block Skim Rubber mampu memengaruhi harga acuan karet dunia, khususnya TSR20 (Technically Specified Rubber 20) dan RSS3 (Ribbed Smoked Sheet Grade 3).

Hingga saat ini, sebagian besar pelaku pasar menilai dampaknya terhadap harga global masih relatif terbatas.

Memanfaatkan Hasil Samping Bernilai Ekonomi

Dalam proses pembuatan lateks pekat (latex concentrate), sebagian besar kandungan karet dipisahkan melalui proses sentrifugasi untuk menghasilkan produk utama yang digunakan dalam industri sarung tangan, benang elastis, kondom, balon, dan berbagai produk karet celup.

Namun setelah proses tersebut selesai, masih terdapat kandungan karet yang tertinggal pada cairan sisa atau skim latex. Melalui proses koagulasi, pengeringan, dan pengolahan lebih lanjut, skim latex tersebut dimanfaatkan menjadi Block Skim Rubber, sehingga memberikan nilai tambah dari hasil samping yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi relatif rendah. Umumnya, skim latex masih mengandung sekitar 4–8 persen kadar karet kering yang masih dapat dipulihkan menjadi produk padat. (ScienceDirect)

Berkembang Pesat Pascapandemi

Produksi Block Skim Rubber sebenarnya telah lama dikenal dalam industri karet. Namun, pemanfaatannya mulai berkembang lebih pesat sejak 2021–2022, ketika industri sarung tangan dunia mengalami lonjakan permintaan akibat pandemi COVID-19.

Meningkatnya produksi lateks pekat di Thailand, Malaysia, Vietnam, dan sebagian Indonesia secara otomatis menghasilkan lebih banyak skim latex. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan pengolah juga mulai berinvestasi pada teknologi pemulihan kandungan karet dari skim latex agar seluruh potensi bahan baku dapat dimanfaatkan.

Selain memberikan tambahan pendapatan, pemanfaatan skim latex juga mendukung efisiensi proses produksi dan mengurangi limbah industri, sejalan dengan penerapan prinsip ekonomi sirkular (circular economy) di sektor agroindustri. (PubMed Central (PMC))

Didorong Efisiensi, Bukan Lonjakan Permintaan

Berbeda dengan produk utama yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar, peningkatan produksi Block Skim Rubber lebih didorong oleh upaya perusahaan memaksimalkan pemanfaatan hasil samping.

Dengan teknologi yang semakin baik, kandungan karet yang sebelumnya terbuang bersama skim latex kini dapat dipulihkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Karena itu, pertumbuhan produksi Block Skim Rubber lebih mencerminkan meningkatnya efisiensi industri pengolahan lateks pekat daripada adanya lonjakan permintaan khusus terhadap produk tersebut.

Apakah Mempengaruhi Harga TSR20 dan RSS3?

Secara teori, bertambahnya produksi Block Skim Rubber memang menambah pasokan karet alam di pasar internasional. Namun hingga saat ini, pengaruhnya terhadap pembentukan harga TSR20 maupun RSS3 dinilai masih relatif kecil.

Volume Block Skim Rubber masih jauh lebih rendah dibandingkan total produksi karet alam dunia. Selain itu, penggunaannya umumnya terbatas pada produk-produk industri yang tidak memerlukan spesifikasi teknis tinggi atau digunakan sebagai bahan pencampur (blending) dalam formulasi kompon karet. (ganpatiexim.com)

Sebaliknya, harga acuan dunia seperti TSR20 dan RSS3 masih lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental yang memiliki dampak jauh lebih besar, antara lain:

  • produksi karet di Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Malaysia;

  • kondisi cuaca, termasuk El Niño maupun La Niña;

  • permintaan industri ban global yang menyerap sekitar 70 persen konsumsi karet alam dunia;

  • tingkat stok karet di Tiongkok;

  • harga minyak mentah yang memengaruhi daya saing karet sintetis; dan

  • aktivitas perdagangan di bursa berjangka seperti SGX (SICOM), SHFE, dan OSE.

Dengan demikian, tambahan pasokan Block Skim Rubber hingga kini belum cukup besar untuk mengubah arah harga pasar karet dunia secara signifikan.

Kini Justru Menghadapi Tantangan

Ironisnya, ketika pemanfaatan Block Skim Rubber semakin berkembang, industri pengolahan lateks pekat justru menghadapi tantangan baru.

Di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, sejumlah pabrik pengolahan lateks pekat mulai menghentikan operasional akibat semakin sulit memperoleh bahan baku berupa lateks segar. Berkurangnya areal perkebunan karet karena konversi ke kelapa sawit membuat pasokan lateks semakin terbatas.

Di sisi lain, permintaan lateks pekat dari industri sarung tangan juga mengalami penurunan karena sebagian produsen beralih menggunakan lateks sintetis untuk berbagai jenis produk.

Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak langsung terhadap produksi Block Skim Rubber. Semakin sedikit lateks pekat yang diproduksi, semakin sedikit pula skim latex yang tersedia sebagai bahan baku Block Skim Rubber.

Prospek ke Depan

Dalam jangka panjang, Block Skim Rubber diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari strategi efisiensi industri pengolahan lateks pekat. Pemanfaatan hasil samping menjadi produk bernilai ekonomi memberikan tambahan pendapatan bagi perusahaan sekaligus mengurangi limbah proses produksi.

Namun dari sisi pasar global, keberadaan Block Skim Rubber diperkirakan tetap hanya menjadi faktor pelengkap dalam struktur pasokan karet alam. Arah harga acuan dunia seperti TSR20 dan RSS3 masih akan lebih ditentukan oleh perkembangan produksi di negara-negara utama, kondisi cuaca, tingkat stok di Tiongkok, permintaan industri ban global, serta dinamika ekonomi dunia dibandingkan oleh peningkatan produksi Block Skim Rubber itu sendiri.

◆ ◆ ◆

SEKRETARIAT PUSAT

Jl. Cideng Barat No. 62-A, Jakarta 10150
☎️ (62-21) 3501510, 3501511, 2846813
📠 (62-21) 3846811, 3500368
🌐 http://www.gapkindo.org
📧 karetind@indosat.net.id

GAPKINDO SUMUT

Kompleks Taman Tomang Elok
Blok I No. 41/156
Jl. Jend. Gatot Subroto – Sei Sikambing
Medan 20122 - ☎️ (62-61) 8468819
📧 gapkindosu.office@gmail.com

PETA LOKASI