Harga Karet Bersiap Melonjak Lagi? Stok Global Terus Menyusut, TSR20 Dibuka Menguat
Medan, 27 Agustus 2026 – Harga karet alam acuan ekspor Indonesia mengawali perdagangan hari ini dengan kecenderungan menguat. Hingga pukul 09.23 WIB, kontrak SICOM TSR20 September berada di level 237,2 sen AS per kilogram, naik 0,9 sen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, kontrak karet alam di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga menguat, dengan kontrak aktif RU Januari 2027 naik 195 yuan menjadi 18.690 yuan per ton.
Pergerakan tersebut mengindikasikan minat beli masih bertahan meski sehari sebelumnya pasar sempat mengalami koreksi terbatas. Pada perdagangan Rabu (26/8), kontrak utama RU ditutup melemah tipis 5 yuan ke level 18.540 yuan per ton, sedangkan kontrak NR turun 55 yuan menjadi 15.505 yuan per ton. Di pasar fisik, harga TSR20 Thailand di kawasan berikat Qingdao juga terkoreksi tipis sebesar 5 dolar AS menjadi 2.335 dolar AS per ton.
Bagi industri karet Indonesia, pergerakan TSR20 menjadi acuan utama karena sebagian besar ekspor nasional berupa SIR20 (Standard Indonesian Rubber 20) yang mengacu pada benchmark SICOM TSR20, salah satu referensi harga global untuk perdagangan karet remah.
Stok terus turun, pasokan masih ketat
Fundamental pasar masih cenderung mendukung harga. Salah satu faktor utama adalah terus menurunnya persediaan karet di China.
Data terbaru menunjukkan persediaan sosial karet alam turun menjadi sekitar 631.523 ton, sementara stok di Pelabuhan Qingdao juga berkurang lebih dari 11 ribu ton dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan stok ini menunjukkan pasokan di pasar masih relatif ketat meskipun negara-negara produsen utama telah memasuki musim produksi.
Selain itu, harga bahan baku di Thailand tetap bertahan pada level tinggi. Kekhawatiran terhadap cuaca yang kurang bersahabat, termasuk potensi gangguan produksi akibat El Niño dan hujan di sejumlah wilayah penghasil, masih menjadi faktor yang menopang harga bahan baku sehingga membatasi ruang penurunan harga karet alam.
Di sisi perdagangan, impor karet alam China selama Januari–Juli 2026 mencapai sekitar 3,59 juta ton, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, ekspor ban karet China secara volume masih tumbuh, meskipun nilai ekspornya turun akibat tekanan harga jual. Kondisi ini menunjukkan aktivitas industri ban masih berjalan, namun permintaan global belum sepenuhnya pulih.
Permintaan masih menjadi tantangan
Meski pasokan relatif ketat, permintaan dari sektor hilir belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Penjualan kendaraan penumpang di China pada Juli 2026 turun lebih dari 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingkat operasi pabrik ban juga masih berada di bawah tahun sebelumnya, mencerminkan konsumsi karet yang belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah analis juga mengingatkan bahwa kenaikan harga sepanjang Agustus berlangsung cukup tajam. Tanpa adanya katalis baru, ruang penguatan dalam jangka pendek diperkirakan mulai terbatas sehingga pelaku pasar disarankan tetap mewaspadai aksi ambil untung.
Prospek TSR20 hari ini
Dengan melihat pergerakan awal perdagangan, TSR20 masih memiliki peluang mempertahankan tren positif selama didukung oleh penurunan stok global, harga bahan baku yang tetap tinggi, serta kekhawatiran gangguan produksi akibat cuaca.
Namun, sentimen tersebut masih diimbangi oleh lemahnya permintaan dari industri ban sehingga kenaikan harga diperkirakan berlangsung secara bertahap.
Disclaimer Analisis Teknikal: Analisis berikut merupakan pandangan umum, bukan rekomendasi investasi maupun jaminan arah pasar.
Secara teknikal, selama TSR20 mampu bertahan di atas 236 sen AS/kg, momentum penguatan masih cukup terjaga dengan peluang menguji kisaran 238–240 sen AS/kg pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, apabila terjadi aksi ambil untung, area 234–235 sen AS/kg diperkirakan menjadi zona support awal. Proyeksi ini bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sentimen global, kondisi cuaca di negara produsen, maupun perubahan permintaan industri.
Secara keseluruhan, fundamental pasar karet masih relatif konstruktif. Penurunan persediaan, harga bahan baku yang tinggi, dan risiko gangguan pasokan masih menjadi penopang utama harga. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan permintaan global yang hingga kini belum menunjukkan pemulihan yang benar-benar solid.