|  
EUDR kembali ditunda untuk kedua kalinya sehingga akan berlaku mulai 30 Desember 2026 untuk perusahaan besar (selaku operator) dan 30 Juni 2027 untuk usaha kecil (selaku UKM).
Ikon Berita

BERITA TERKINI

Harga Karet Memburu 260 Sen: Tembus atau Profit Taking? SICOM Masih Panas di Tengah Libur SHFE

Harga Karet Memburu 260 Sen: Tembus atau Profit Taking? SICOM Masih Panas di Tengah Libur SHFE

MEDAN, 5 Oktober 2026 — Harga karet alam kembali menunjukkan kekuatan pada awal perdagangan pekan ini. Pantauan pada Senin (5/10) pukul 10.15 WIB menunjukkan SICOM-TSR20 kontrak November berada di 259,9 sen AS per kilogram, naik 2,1 sen atau sekitar 0,8 persen.

Harga tersebut hanya berjarak 0,1 sen dari level psikologis 260 sen/kg. Dengan demikian, perhatian pasar kini tertuju pada satu pertanyaan: apakah harga mampu menembus 260 dan melanjutkan kenaikan, atau justru kembali menghadapi aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang?

Kondisi saat ini menarik karena perdagangan karet berjangka China masih libur. Pasar SHFE/INE tidak beroperasi pada 1–7 Oktober 2026 dalam rangka libur National Day/Golden Week dan dijadwalkan kembali pada 8 Oktober. Dengan demikian, pergerakan SICOM selama periode tersebut berlangsung tanpa pembentukan harga baru dari pasar berjangka China.

SICOM Menjadi Acuan Penting Selama SHFE Libur

Tidak adanya perdagangan SHFE membuat pergerakan SICOM menjadi semakin penting untuk diperhatikan oleh pelaku pasar Asia.

Selama libur China, pasar tidak memperoleh sinyal harga terbaru dari salah satu pusat perdagangan karet terbesar dunia. Akibatnya, kenaikan SICOM menuju 260 sen/kg lebih banyak mencerminkan kombinasi kondisi pasokan regional, cuaca, sentimen pasar serta posisi perdagangan pelaku pasar di kawasan lain.

Namun kondisi ini juga memiliki sisi lain.

Ketika SHFE kembali dibuka pada 8 Oktober, pasar China akan berpotensi melakukan penyesuaian terhadap perkembangan harga karet selama libur. Jika harga SICOM tetap tinggi atau bahkan berhasil menembus 260–265 sen/kg, pasar China berpotensi memberikan respons kenaikan.

Sebaliknya, apabila SICOM mengalami koreksi cukup dalam sebelum 8 Oktober, SHFE juga dapat membuka perdagangan dengan melakukan penyesuaian ke bawah.

Karena itu, pembukaan kembali SHFE pada 8 Oktober menjadi salah satu tanggal penting bagi pasar karet pekan ini.

Harga Naik Hampir 4 Persen dalam Sepekan

Kekuatan harga terlihat jelas apabila dibandingkan dengan posisi satu minggu sebelumnya.

Pada 29 September, SICOM-TSR20 berada di sekitar 250 sen/kg. Harga kemudian melonjak menjadi 258,7 sen pada 30 September, terkoreksi ke 255,4 sen pada 1 Oktober, lalu kembali menguat ke 257,8 sen pada 2 Oktober.

Pada perdagangan hari ini, harga kembali naik menjadi 259,9 sen.

Dengan demikian, dibandingkan 29 September, harga telah bertambah sekitar 9,9 sen atau hampir 4 persen.

Jika dibandingkan dengan posisi 28 September sebesar 252,4 sen, kenaikannya mencapai sekitar 3 persen.

Pola tersebut menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi pada 1 Oktober belum mengubah tren utama. Harga memang sempat turun setelah lonjakan tajam pada 30 September, tetapi tekanan jual segera diserap dan pasar kembali bergerak naik.

Dengan kata lain, profit taking sudah muncul, tetapi sampai saat ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren.

Dari 180 Sen ke Hampir 260 Sen

Kenaikan harga menjadi semakin signifikan jika dilihat dalam perspektif sepanjang tahun.

Pada awal Januari 2026, SICOM-TSR20 masih berada di sekitar 181–183 sen/kg. Harga kemudian bergerak naik secara bertahap melewati 200 sen, 220 sen dan 240 sen.

Pada September, kenaikan semakin cepat. Harga sempat mencapai 249,9 sen pada 9 September, kemudian terkoreksi hingga 236 sen pada pertengahan September.

Namun sejak 22 September, pasar kembali mendapatkan momentum. Harga naik dari 241,7 sen menjadi 249,5 sen pada 23 September, 254 sen pada 24 September dan 256,2 sen pada 25 September.

Setelah koreksi singkat pada 28–29 September, harga kembali melonjak menjadi 258,7 sen pada 30 September.

Artinya, kenaikan menuju 260 bukan terjadi dalam satu atau dua hari. Harga telah mengalami tren naik panjang sejak awal tahun, dengan beberapa kali koreksi yang kemudian kembali dibeli.

Inilah yang membuat pasar sekarang berada pada fase yang menarik sekaligus berisiko tinggi.

Mengapa Harga Karet Masih Kuat?

Faktor utama yang menopang harga saat ini adalah kekhawatiran terhadap pasokan.

Data terbaru industri menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi karet alam global pada 2026 diperkirakan relatif terbatas, sementara permintaan dunia tetap tumbuh. Kondisi tersebut membuat keseimbangan pasar menjadi lebih ketat dibandingkan ketika pasokan tumbuh longgar.

Data ANRPC terbaru menunjukkan produksi anggota organisasi tersebut pada periode yang dipantau masih menghadapi tekanan, sementara permintaan global tetap menjadi penopang pasar. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap gangguan produksi di negara-negara produsen utama.

Thailand menjadi salah satu perhatian utama karena merupakan produsen karet alam terbesar dunia.

Gangguan hujan di wilayah produksi dapat menghambat penyadapan dan pengumpulan bahan baku. Masalahnya bukan semata-mata kerusakan tanaman, tetapi petani tidak selalu dapat melakukan penyadapan secara normal ketika hujan terlalu deras.

Jika hujan berlangsung dalam waktu lama, bahan baku yang masuk ke pabrik dapat berkurang.

Kondisi cuaca Thailand juga masih menjadi perhatian pada awal Oktober karena terdapat potensi hujan lebat di sejumlah wilayah.

Pasar kemudian memperhitungkan kemungkinan bahwa pasokan bahan baku akan tetap terbatas pada saat permintaan masih berjalan.

Cuaca Menjadi Pemicu, tetapi Bukan Satu-satunya

Pergerakan harga saat ini tidak sebaiknya dijelaskan hanya dengan satu faktor.

Cuaca memang menjadi pemicu penting, tetapi pasar juga melihat kondisi produksi global, persediaan, ekspor negara produsen dan kebutuhan industri ban.

Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian pasar juga tertuju pada kecenderungan persediaan karet di sejumlah pusat perdagangan yang menurun. Ketika persediaan tidak terlalu tinggi, setiap gangguan produksi baru memiliki dampak lebih besar terhadap harga.

Hal ini menjelaskan mengapa berita hujan di Thailand sekarang mendapat respons lebih besar dibandingkan ketika kondisi persediaan masih longgar.

Ada pula faktor biaya energi. Harga minyak yang relatif tinggi dapat meningkatkan biaya produksi karet sintetis. Hal tersebut secara tidak langsung memberikan dukungan terhadap harga karet alam karena karet sintetis merupakan salah satu alternatif bahan yang digunakan industri.

Namun, faktor ini lebih tepat disebut pendukung, bukan penyebab tunggal lonjakan SICOM menuju 260.

Permintaan Masih Ada, tetapi Tidak Boleh Diabaikan

Dari sisi permintaan, industri ban tetap menjadi penopang utama.

Pertumbuhan kendaraan, aktivitas transportasi serta kebutuhan penggantian ban membuat konsumsi karet tetap berjalan. China, India dan negara-negara Asia lainnya tetap menjadi bagian penting dalam permintaan karet global.

Namun terdapat perbedaan antara permintaan yang sehat dan permintaan yang melonjak.

Kenaikan harga karet saat ini lebih banyak menunjukkan bahwa pasar sedang memberikan premi terhadap risiko pasokan. Artinya, kenaikan harga tidak boleh langsung diterjemahkan bahwa konsumsi sedang mengalami ledakan.

Bahkan, apabila harga bahan baku terus naik terlalu cepat, produsen ban akan menghadapi tekanan biaya.

Sejumlah produsen ban telah melakukan penyesuaian harga untuk menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Bagi perusahaan besar, dampaknya dapat dikelola melalui kenaikan harga produk, efisiensi, kontrak pasokan dan strategi lindung nilai.

Namun bagi produsen yang memiliki ruang margin lebih kecil, kenaikan harga karet dapat menjadi tekanan yang lebih berat.

Apakah Ini Sudah Memasuki Fase Profit Taking?

Potensinya semakin besar.

Semakin dekat harga dengan 260 sen/kg, semakin besar kemungkinan sebagian pelaku pasar memilih mengunci keuntungan.

Terlebih lagi, harga telah mengalami kenaikan panjang dari sekitar 180 sen pada awal tahun menuju hampir 260 sen sekarang.

Kondisi seperti ini biasanya membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita negatif. Berita yang sebelumnya hanya menimbulkan koreksi kecil dapat memicu aksi jual yang lebih besar ketika posisi spekulatif sudah cukup tinggi.

Namun, selama setiap koreksi masih dibeli kembali dan harga mampu mempertahankan area support, profit taking belum dapat disebut sebagai perubahan tren.

Kondisi pada 1 Oktober menjadi contoh yang cukup jelas. Harga turun dari 258,7 menjadi 255,4 sen, tetapi kemudian kembali naik menjadi 257,8 sen pada 2 Oktober dan 259,9 sen pada pagi ini.

Ini menunjukkan bahwa pembeli masih aktif ketika harga mengalami koreksi.

260 Sen Menjadi Titik Penentu

Secara psikologis, 260 sen/kg merupakan level penting.

Apabila harga hanya menyentuh 260 kemudian kembali turun, pasar dapat menganggapnya sebagai resistance yang belum berhasil ditembus.

Tetapi apabila harga mampu menembus 260 dan bertahan di atasnya, persepsi pasar dapat berubah.

Pelaku pasar yang sebelumnya menunggu koreksi mungkin justru masuk kembali ketika resistance ditembus. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan dapat berlangsung lebih cepat.

Dari perspektif teknikal, area berikutnya yang patut diperhatikan setelah 260 adalah sekitar 262–265 sen/kg.

Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan momentum, area 257–258 sen/kg menjadi pertahanan awal.

Jika tekanan jual semakin kuat dan harga turun di bawah 255 sen, koreksi dapat membuka ruang menuju sekitar 252–253 sen/kg.

Perkiraan Pergerakan Hari Ini

Berdasarkan pola harga yang terlihat sampai pukul 10.15 WIB, bias SICOM-TSR20 masih cenderung bullish.

Skenario pertama adalah harga berhasil menembus 260 sen dan bertahan di atasnya. Dalam kondisi tersebut, peluang bergerak ke 262–265 sen/kg terbuka.

Skenario kedua adalah harga berulang kali mencoba 260 tetapi gagal bertahan. Pasar kemudian kemungkinan bergerak sideways di kisaran 257–260 sen/kg.

Skenario ketiga adalah munculnya profit taking yang lebih besar. Jika harga kehilangan 257 sen dan tekanan jual terus meningkat, pasar berpotensi kembali menguji 255 sen.

Untuk perdagangan hari ini, secara probabilitas teknikal, 260 menjadi trigger utama. Di atas 260, momentum dapat bertambah kuat; sementara kegagalan menembus 260 meningkatkan kemungkinan konsolidasi atau koreksi.

Disclaimer: perkiraan tersebut merupakan analisis teknikal berbasis pola harga dan level support-resistance, bukan kepastian arah pasar. Pergerakan komoditas dapat berubah cepat akibat cuaca, pasokan, permintaan, nilai tukar, posisi spekulatif dan perkembangan pasar global.

Ada Faktor Penting Lain: Pembukaan SHFE 8 Oktober

Pelaku pasar sebaiknya tidak hanya melihat perdagangan SICOM hari ini.

Karena SHFE/INE masih libur hingga 7 Oktober, perdagangan karet China baru mendapatkan harga baru ketika pasar kembali dibuka pada 8 Oktober.

Ini berarti pasar memiliki beberapa hari untuk melihat perkembangan harga SICOM tanpa respons langsung dari SHFE.

Jika SICOM berhasil melewati 260 dan tetap kuat selama periode tersebut, pembukaan SHFE dapat menjadi katalis tambahan.

Sebaliknya, apabila SICOM gagal mempertahankan kenaikan dan justru mengalami koreksi sebelum 8 Oktober, pasar China berpotensi memberikan respons berbeda ketika perdagangan kembali berlangsung.

Karena itu, 8 Oktober menjadi salah satu tanggal yang patut ditandai oleh pelaku industri karet.

Kesimpulan

Harga SICOM-TSR20 kontrak November yang mencapai 259,9 sen/kg pada pukul 10.15 WIB menunjukkan bahwa pasar masih memiliki momentum kenaikan.

Dalam satu minggu, harga telah meningkat hampir 4 persen dari sekitar 250 sen/kg. Lebih jauh lagi, sepanjang 2026 harga telah meningkat jauh dari kisaran 180-an sen pada awal tahun.

Kenaikan kali ini memiliki dukungan fundamental berupa kekhawatiran pasokan, gangguan cuaca di kawasan produsen, pertumbuhan produksi global yang terbatas dan permintaan yang masih bertahan.

Namun pasar juga sudah berada pada level yang jauh lebih tinggi. Karena itu, risiko profit taking sekarang semakin besar, terutama apabila harga gagal melewati 260 sen/kg.

Untuk hari ini, perhatian utama berada pada:

260 sen — resistance/trigger utama
262–265 sen — target jika breakout berhasil
257–258 sen — support awal
255 sen — support berikutnya
252–253 sen — area koreksi lebih dalam

Dengan kondisi saat ini, peluang menembus 260 cukup terbuka, tetapi menembus 260 belum tentu berarti harga langsung melaju jauh. Pasar perlu membuktikan bahwa level tersebut dapat dipertahankan.

Yang juga perlu dicermati adalah liburnya SHFE hingga 7 Oktober dan pembukaan kembali pada 8 Oktober. Respons pasar China pada saat itu dapat menjadi ujian berikutnya bagi reli karet yang sedang berlangsung.

Untuk sementara, selama SICOM masih mampu bertahan di atas area 255–257 sen/kg, tren utama masih lebih kuat ke arah bullish daripada bearish.

◆ ◆ ◆

SEKRETARIAT PUSAT

Jl. Cideng Barat No. 62-A, Jakarta 10150
☎️ (62-21) 3501510, 3501511, 2846813
📠 (62-21) 3846811, 3500368
🌐 http://www.gapkindo.org
📧 karetind@indosat.net.id

GAPKINDO SUMUT

Kompleks Taman Tomang Elok
Blok I No. 41/156
Jl. Jend. Gatot Subroto – Sei Sikambing
Medan 20122 - ☎️ (62-61) 8468819
📧 gapkindosu.office@gmail.com

PETA LOKASI