Ekspor Karet Sumatera Utara 2025 Menurun di Tengah Dinamika Pasar Global
Medan, mediaperkebunan.id — Total volume ekspor
karet asal Sumatera Utara sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 249.379
ton, turun 4.997 ton atau sekitar 1,97 persen dibandingkan tahun 2024
yang mencapai 254.376 ton. Edy Irwansyah, Sekretaris Eksekutif GAPKINDO
Sumut menyatakan hal ini.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa realisasi ekspor karet Sumatera
Utara masih jauh di bawah kondisi normal yang berkisar 500–600 ribu ton
per tahun. Penurunan volume ini terjadi di tengah dinamika pasar karet
alam global yang masih dibayangi perlambatan permintaan, meskipun rataan
harga karet SICOM TSR20 tahun 2025 meningkat menjadi 177,11 sen AS per
kg, lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sebesar 174,34 sen AS per kg.
Sepanjang tahun 2025, ekspor karet Sumatera Utara menjangkau 39
negara tujuan. Lima negara tujuan utama masih didominasi oleh Jepang
(31,71%), Amerika Serikat (18,04%), Brasil (10,11%), Tiongkok (8,60%),
dan India (5,80%), yang secara kumulatif menyerap lebih dari separuh
total ekspor karet Sumatera Utara dan mencerminkan ketergantungan yang
kuat terhadap pasar utama global. Kawasan Eropa tetap menjadi pasar
strategis dengan 19 negara tujuan ekspor, yaitu Spanyol (19,80%), Italia
(18,42%), Jerman (12,30%), Polandia (9,84%), Luksemburg (9,17%),
Rumania (6,25%), Prancis (6,16%), Belgia (6,09%), Slovenia (3,32%),
Bulgaria (2,46%), Yunani (1,34%), Latvia (1,19%), Belanda (1,12%),
Kroasia (0,75%), Finlandia (0,67%), Serbia (0,45%), Ceko (0,30%),
Inggris (0,24%), dan Rusia (0,14%).
Penurunan volume ekspor karet pada tahun 2025 terutama dipengaruhi
oleh melemahnya permintaan global, khususnya dari sektor otomotif dan
industri manufaktur, seiring perlambatan ekonomi di sejumlah negara
importir utama. Selain itu, gangguan cuaca ekstrem di negara-negara
produsen karet dunia seperti Tiongkok, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan
Indonesia—berupa curah hujan tinggi, banjir, serta badai lokal—telah
menghambat kegiatan penyadapan dan pengolahan karet. Faktor lain yang
turut menekan kinerja ekspor adalahpenyesuaian stok di negara tujuan,
tekanan biaya produksi, serta dinamika kebijakan perdagangan globa, yang
berdampak pada ekspor karet Indonesia secara umum.
Di sisi lain, kenaikan harga karet pada tahun 2025 mencerminkan
adanya pengetatan pasokan global di tengah produksi yang belum pulih
sepenuhnya.
Terkait kebijakan pasar Eropa, penerapan European Union
Deforestation Regulation (EUDR) yang mengatur kewajiban ketertelusuran
dan jaminan bebas deforestasi untuk komoditas termasuk karet, secara
resmi akan mulai berlaku pada 30 Desember 2026 bagi perusahaan besar dan
menengah, sementara usaha mikro dan kecil memiliki masa transisi hingga
30 Juni 2027.
Penundaan penerapan ini memberikan tambahan waktu bagi pelaku usaha
karet untuk mempersiapkan sistem kepatuhan, sekaligus mengurangi tekanan
jangka pendek terhadap arus ekspor ke Uni Eropa.
Untuk tahun 2026, produksi karet alam diperkirakan masih berada pada
kondisi stagnan, dipengaruhi oleh penuaan tanaman karet, keterbatasan
peremajaan kebun, dampak lanjutan perubahan iklim, serta fluktuasi minat
petani akibat biaya input dan ketidakpastian harga. Dalam konteks pasar
karet global yang masih menantang, penguatan produktivitas kebun,
percepatan peremajaan, peningkatan mutu dan ketertelusuran bahan baku,
serta diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah strategis guna menjaga
keberlanjutan dan daya saing ekspor karet Sumatera Utara.