Produksi Naik Tipis 2025, Risiko Krisis Pasokan Karet Mengintai 2026
Medan, 05-Feb-2026 – Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC) melaporkan bahwa produksi karet alam dunia pada 2025 mengalami kenaikan, sementara konsumsi justru turun tipis. Kondisi ini menunjukkan ketidakseimbangan pasar yang masih berlanjut dan berpotensi memicu tekanan harga ke depan.
Dalam laporan bulanan Desember 2025, ANRPC memperkirakan produksi karet alam global mencapai 14,9 juta ton, meningkat 1,4 persen dibanding 2024. Namun, konsumsi diproyeksikan turun 0,7 persen menjadi sekitar 15,34 juta ton, seiring revisi permintaan dari negara konsumen utama seperti China, India, dan Amerika Serikat, khususnya akibat perlambatan sektor otomotif.
ANRPC menilai dinamika tersebut dipengaruhi faktor cuaca ekstrem, minimnya investasi peremajaan kebun, serta gejolak ekonomi global. Pada Desember 2025, produksi karet alam tercatat turun 10,8 persen (YoY), terutama akibat curah hujan tinggi dan banjir di negara produsen utama seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia.
Di sisi pasar, harga karet fisik justru menunjukkan tren penguatan. Pada 29 Januari 2026, di Malaysia, karet SMR20 naik menjadi 767 sen per kilogram, didukung sentimen positif pasar energi serta kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang tetap stabil.
Tekanan pasokan juga tercermin dari India. Meski anggaran pemerintah untuk sektor karet meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, produktivitas justru turun dari 1.629 kg per hektare pada 2013–2014 menjadi 1.485 kg per hektare pada 2023–2024. Sekitar 30–35 persen konsumsi karet India masih bergantung pada impor, sementara lebih dari 30 persen lahan karet tidak dimanfaatkan optimal akibat biaya produksi tinggi dan minimnya peremajaan kebun.
Kondisi serupa terjadi di banyak negara produsen lain, di mana petani mulai meninggalkan kebun karet karena margin yang semakin tipis. Berbagai analis menilai situasi ini menciptakan defisit pasokan struktural, sehingga meski permintaan global sempat melemah, pasar tetap rentan terhadap guncangan.
Dengan risiko iklim, rendahnya investasi, dan ketergantungan pada beberapa negara produsen utama, pasar karet global diperkirakan menghadapi potensi lonjakan harga pada 2026, terutama jika terjadi gangguan cuaca besar atau pemulihan ekonomi China berlangsung lebih cepat dari perkiraan.