Harga Karet Global Bergerak Campuran, SIR20 Berpotensi Stabil
Medan, 18 Februari 2026 – Pergerakan harga karet alam dunia pada pekan kedua Februari 2026 tercatat bervariasi, dipengaruhi faktor nilai tukar, aktivitas perdagangan yang melambat selama libur Tahun Baru Imlek, serta prospek pasokan yang berpotensi mengetat dalam beberapa bulan ke depan.
Di Jepang, kontrak karet pengiriman Juli 2026 di Osaka Exchange (OSE) melemah dan melanjutkan tren penurunan selama beberapa hari terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan yen Jepang yang membuat harga menjadi kurang kompetitif bagi pembeli luar negeri, serta rendahnya aktivitas perdagangan akibat libur di negara konsumen utama seperti China dan Singapura.
Sebaliknya, pasar China menunjukkan penguatan. Kontrak karet di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik sekitar 1,7%, sementara di International Energy Exchange (INE) meningkat 1,5%, didorong oleh aksi penyesuaian posisi menjelang libur Imlek. Di Singapura, kontrak aktif SICOM juga menguat sekitar 2,5%, didukung munculnya minat beli baru di tengah ekspektasi pasokan yang lebih ketat.
Sentimen positif ini antara lain dipengaruhi oleh prospek musim gugur daun (wintering) di negara-negara produsen belahan bumi utara yang diperkirakan datang lebih awal. Secara musiman, periode Februari hingga Mei merupakan fase produksi rendah, sehingga berpotensi mengurangi pasokan bahan baku dan menopang harga karet alam dunia.
Dari sisi fundamental jangka panjang, Ghana sebagai salah satu negara produsen karet juga mengumumkan kebijakan strategis untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan di dalam negeri. Pemerintah Ghana menyatakan akan memfokuskan pengembangan industri pengolahan karet guna meningkatkan nilai tambah, pendapatan petani, serta devisa negara. Kebijakan ini berpotensi mengurangi pasokan bahan baku mentah ke pasar internasional dalam jangka panjang dan mendukung stabilitas harga global.
Dampak terhadap SIR20
Bagi Indonesia, khususnya produsen SIR20, kondisi ini memberikan sinyal yang relatif positif. Penguatan harga di bursa SICOM yang menjadi acuan utama perdagangan SIR20 menunjukkan adanya dukungan fundamental pasar. Selain itu, periode wintering di negara produsen utama seperti Thailand dan sebagian wilayah Indonesia juga berpotensi membatasi produksi dalam beberapa bulan ke depan.
Namun demikian, permintaan global masih menjadi faktor yang perlu dicermati, terutama dari industri manufaktur ban di China yang saat ini masih dipengaruhi aktivitas libur panjang dan kondisi ekonomi global.
Secara keseluruhan, dengan adanya potensi pengetatan pasokan global serta kebijakan hilirisasi di negara produsen, harga SIR20 Indonesia diperkirakan memiliki peluang untuk tetap stabil dengan kecenderungan menguat terbatas dalam jangka pendek, meskipun volatilitas masih mungkin terjadi mengikuti perkembangan permintaan global dan nilai tukar mata uang.