Industri Karet Global Tertekan
Medan, 14 Februari – Industri karet dunia menghadapi tekanan dari sisi produksi dan perdagangan. Penurunan kinerja industri di Jerman dan melemahnya ekspor karet Thailand menjadi sinyal melemahnya permintaan global, meskipun harga karet regional masih menunjukkan penguatan terbatas.
Produksi Jerman terus turun
Asosiasi industri karet Jerman (WDK) melaporkan produksi karet turun 6,4 persen menjadi 1,03 juta ton pada 2025. Penurunan ini merupakan yang keempat secara berturut-turut.
Produksi ban turun 8,9 persen, sementara produksi barang karet teknis turun 4,6 persen. Nilai penjualan industri karet juga turun 8 persen menjadi 10,5 miliar euro.
Jumlah tenaga kerja ikut menurun 3,8 persen menjadi sekitar 60.600 orang, menandai tren penurunan selama lima tahun terakhir.
WDK menyebut lemahnya permintaan dan tingginya biaya energi, pajak, dan tenaga kerja membuat industri semakin tertekan dan sebagian investasi mulai berpindah ke luar negeri.
Ekspor karet Thailand melemah
Dari Asia Tenggara, Thailand melaporkan ekspor produk pertanian, termasuk karet, turun 1,8 persen pada Januari 2026.
Penurunan ini menunjukkan melemahnya permintaan pada komoditas utama, meskipun secara keseluruhan ekspor Thailand masih tumbuh karena didorong sektor industri.
Thailand merupakan salah satu eksportir karet alam terbesar dunia, sehingga penurunan ini menjadi perhatian pasar global.
Harga karet regional menguat
Di tengah tekanan tersebut, harga karet di Kuala Lumpur justru menguat.
Harga SMR 20 naik menjadi 770,50 sen per kilogram, sedangkan harga lateks curah naik menjadi 592 sen per kilogram.
Penguatan ini didukung sentimen positif pasar regional dan harapan membaiknya ekonomi global.
Kondisi ini menunjukkan industri karet global masih menghadapi tekanan permintaan, namun pergerakan harga memberikan harapan bagi negara produsen, termasuk Indonesia.