Harga Karet Dunia Menguat, Pasokan Ketat dan Faktor Global Jadi Penopang
Medan, 26 Februari 2026 – Harga karet alam di pasar internasional menunjukkan tren penguatan dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh pasokan global yang mengetat, kenaikan harga bahan baku di negara produsen utama, serta dinamika kebijakan perdagangan internasional.
Di bursa Jepang, kontrak karet untuk pengiriman Agustus di Osaka Exchange tercatat naik menjadi sekitar 374,2 yen per kilogram, level tertinggi dalam setahun terakhir. Penguatan juga terjadi di Shanghai Futures Exchange, di mana kontrak karet alam meningkat lebih dari 2 persen, mencerminkan sentimen positif pasar akibat terbatasnya pasokan selama musim rendah produksi.
Sementara itu, di Singapore Exchange (SGX), kontrak acuan TSR20 sempat diperdagangkan di kisaran 203 sen AS per kilogram. Secara keseluruhan, harga karet global selama periode libur Tahun Baru Imlek menunjukkan pola sempat melemah, namun kemudian berbalik menguat dan mencatatkan kenaikan dibandingkan sebelum liburan.
Pasokan Ketat Dorong Harga
Penguatan harga terutama dipicu oleh kondisi produksi di negara produsen utama seperti Thailand, Indonesia, dan Vietnam yang saat ini memasuki musim rendah produksi atau wintering season. Pada periode ini, volume sadapan karet menurun secara musiman, sehingga pasokan bahan baku menjadi terbatas.
Di Thailand, harga pembelian bahan baku terus meningkat. Harga lateks di pasar pusat tercatat naik mendekati 66 baht per kilogram pada akhir Februari, sementara harga cup lump dan smoked sheet juga mengalami kenaikan. Kenaikan ini mencerminkan persaingan pasokan di tingkat pabrik serta terbatasnya produksi bahan baku.
Selain faktor musiman, kondisi cuaca seperti curah hujan di beberapa wilayah produsen turut menekan produksi, sehingga memperkuat sentimen kenaikan harga di pasar global.
Data ekspor Thailand juga menunjukkan penurunan. Pada Januari 2026, ekspor karet alam negara tersebut tercatat sekitar 371 ribu ton, turun lebih dari 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini semakin memperketat pasokan di pasar internasional.
Faktor Kebijakan dan Makro Tambah Volatilitas
Selain faktor fundamental, dinamika kebijakan perdagangan global turut memengaruhi pasar karet. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menyatakan kebijakan tarif sebelumnya melanggar hukum sempat memberikan sentimen positif bagi pasar komoditas.
Namun, ketidakpastian kembali muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kebijakan baru yang mengenakan tarif impor sebesar 10 persen untuk berbagai produk dari banyak negara. Langkah ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan perdagangan global yang dapat memengaruhi permintaan dan harga komoditas, termasuk karet.
Di sisi lain, kebijakan China yang akan memberlakukan tarif nol persen terhadap impor dari sejumlah negara Afrika mulai Mei 2026 diperkirakan dapat meningkatkan pasokan karet di pasar China. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada harga dalam jangka menengah.
Permintaan Industri Ban Tetap Jadi Penopang
Permintaan dari industri ban, khususnya untuk kendaraan komersial, masih menjadi salah satu faktor penting penopang konsumsi karet alam. Produksi ban di China sepanjang 2025 bahkan mencatatkan pertumbuhan, didukung oleh peningkatan ekspor dan pemulihan permintaan domestik.
Namun, prospek tahun 2026 diperkirakan lebih beragam. Produksi ban truk diperkirakan masih tumbuh, sementara produksi ban kendaraan penumpang berpotensi menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan ekspor, terutama ke pasar Eropa.
Prospek: Harga Berpotensi Menguat Terbatas
Analis memperkirakan dalam jangka pendek harga karet alam berpotensi bergerak menguat terbatas dengan volatilitas yang relatif tinggi.
Dari sisi fundamental, terbatasnya pasokan bahan baku dan pemulihan aktivitas industri setelah libur panjang menjadi faktor penopang. Namun, faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan, kondisi ekonomi global, serta potensi peningkatan pasokan impor tetap menjadi risiko yang dapat membatasi kenaikan harga.
Secara keseluruhan, pasar karet alam global saat ini berada dalam fase penguatan yang didukung oleh faktor pasokan, namun masih dibayangi ketidakpastian dari sisi kebijakan dan kondisi ekonomi global.