Harga SICOM-TSR20 Tinggalkan Level 200 Sen AS, Terkoreksi di Tengah Tekanan Pasar
Medan, 4 Maret 2026 – Harga karet alam di pasar berjangka internasional bergerak melemah pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan pantauan di Singapore Exchange (SGX), kontrak SICOM-TSR20 untuk pengiriman Maret pada pukul 07.35 WIB tercatat di level 195,7 US cents per kg, turun tajam dan meninggalkan level psikologis 200 sen AS per kg yang sebelumnya sempat dipertahankan.
Pelemahan ini terjadi setelah harga mengalami reli kuat dalam beberapa hari terakhir dan sempat menyentuh level tertinggi baru pada awal Maret. Pelaku pasar menilai penurunan pagi ini sebagai koreksi teknikal wajar, seiring aksi ambil untung (take profit) yang dilakukan investor karena kontrak dinilai berada dalam kondisi jenuh beli (overbought).
Di tengah tekanan harga tersebut, data terbaru menunjukkan produksi karet alam Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 2,12 juta ton, turun 0,7 persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar 2,13 juta ton. Luas areal tanam tercatat 3,14 juta hektare atau turun 0,3 persen secara tahunan, sementara luas areal panen mencapai 2,22 juta hektare, menyusut 0,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tipis ini mencerminkan stagnasi produksi nasional di tengah tantangan produktivitas dan peremajaan kebun.
Secara fundamental, pasar juga diwarnai sentimen kenaikan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk isu penutupan Selat Hormuz. Dalam kondisi normal, lonjakan harga minyak akan mendorong kenaikan harga karet alam karena biaya produksi karet sintetis ikut meningkat sehingga permintaan terhadap karet alam cenderung menguat. Namun pada perdagangan pagi ini, sentimen tersebut belum mampu menahan tekanan jual di pasar TSR20.
Analis menilai faktor teknikal jangka pendek masih lebih dominan dibandingkan sentimen fundamental energi. Dengan produksi domestik yang relatif stagnan dan dinamika geopolitik global yang belum mereda, pergerakan harga karet alam diperkirakan tetap volatil dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Pelaku industri di Sumatera Utara dan sentra produksi lainnya kini mencermati apakah pelemahan di bawah 200 sen AS per kg ini akan menjadi fase konsolidasi sementara atau membuka ruang koreksi lanjutan sebelum terjadi pemulihan harga.