Pasar Karet Global Masih Volatil, Permintaan Diproyeksi Naik pada 2026
Medan, 9 Maret 2026 – Perdagangan karet alam di pasar global masih menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir. Volatilitas harga terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global serta aktivitas spekulatif di berbagai bursa komoditas internasional.
Meskipun demikian, prospek jangka menengah karet alam dinilai tetap positif. Organisasi negara-negara produsen karet alam dunia memperkirakan permintaan global akan mengalami peningkatan pada tahun 2026. Kenaikan konsumsi tersebut diperkirakan dapat membantu menjaga harga karet tetap relatif kuat di pasar internasional.
Di sisi lain, pasar karet global saat ini masih menghadapi kondisi defisit antara produksi dan konsumsi. Permintaan yang terus meningkat tidak sepenuhnya diimbangi oleh pertumbuhan produksi, sehingga berpotensi mempertahankan tekanan kenaikan harga dalam beberapa tahun mendatang.
Pergerakan harga karet dunia saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika di pasar berjangka Asia yang menjadi acuan utama perdagangan global. Dalam sepekan terakhir, kontrak karet di Osaka Exchange (Jepang) tercatat sempat menguat sekitar 4,3 persen, sementara kontrak di Bursa Shanghai naik sekitar 3,9 persen setelah pasar kembali aktif pasca libur panjang di Tiongkok. Kenaikan tersebut dipicu oleh aktivitas pembelian baru serta meningkatnya volume perdagangan dari pelaku pasar di China.
Sementara itu, perkembangan industri karet juga terlihat dari meningkatnya peran negara-negara produsen baru. Côte d’Ivoire (Pantai Gading) di Afrika Barat menunjukkan perkembangan pesat dan dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi produsen karet alam terbesar ketiga di dunia, setelah Thailand dan Indonesia, serta melampaui Vietnam. Berdasarkan data dan proyeksi Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), produksi karet alam negara tersebut terus meningkat seiring ekspansi perkebunan dan meningkatnya investasi di sektor pengolahan karet.
Dalam kurun waktu 2015 hingga 2024, ekspor karet alam dari Côte d’Ivoire tercatat meningkat tajam, dari sekitar 410 ribu ton menjadi sekitar 1,7 juta ton. Ekspor tersebut sebagian besar ditujukan ke pasar utama seperti China, India, Malaysia, dan Amerika Serikat, yang merupakan pusat industri ban global.
Di pasar berjangka Tiongkok, analis juga mencatat tren penguatan harga dalam jangka pendek. Kontrak karet alam untuk pengiriman Mei masih bergerak dalam pola penguatan terbatas dengan area dukungan di kisaran 15.000–15.500 yuan, sementara level 17.500 yuan dipandang sebagai area tekanan harga dalam jangka pendek.
Sementara itu, pada perdagangan pagi hari di bursa Singapura (SGX), harga SICOM TSR20 yang dipantau pada 07.30 WIB tercatat berada di level 197,6 sen AS per kilogram, naik 1,9 sen untuk kontrak April.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar karet global masih diwarnai volatilitas, prospek permintaan yang meningkat serta keterbatasan pasokan diperkirakan tetap menjadi faktor penopang harga di pasar internasional.