Harga Karet Global Berfluktuasi, Pasar Antisipasi Musim Produksi Baru
Medan, 16 Maret 2026 — Pergerakan harga karet alam di pasar global pada awal pekan ini masih menunjukkan pola fluktuatif, seiring pengaruh berbagai faktor eksternal mulai dari dinamika energi hingga ekspektasi peningkatan produksi di negara-negara produsen utama.
Pada perdagangan Senin pagi (16/3) pukul 7.40, kontrak TSR20 untuk April di bursa SGX-SICOM Singapura tercatat di 194,9 sen AS per kilogram, atau turun tipis 0,1 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih mencoba mencari arah setelah volatilitas yang terjadi pada akhir pekan lalu.
Sementara itu, di Shanghai Futures Exchange (SHFE), kontrak karet alam RU (RSS3) untuk Mei — yang merupakan kontrak paling aktif — berada di level 16.845 yuan per ton, turun 145 yuan.
Secara umum, harga karet global memang cenderung bergerak fluktuatif pada akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (15/3), kontrak karet di Osaka Exchange (OSE) Jepang dilaporkan turun sekitar 0,74 persen menjadi 374 yen per kilogram, mengikuti pelemahan pasar saham di kawasan Asia.
Tekanan juga terlihat di pasar Tiongkok. Pada hari yang sama, kontrak karet di Shanghai Futures Exchange untuk pengiriman Mei sempat terkoreksi sekitar 2,5 persen.
Meski demikian, secara pergerakan mingguan harga karet masih mencatat kenaikan sekitar 1,48 persen, menandakan fundamental pasar komoditas ini masih relatif kuat.
Salah satu faktor yang turut menopang harga karet dalam beberapa waktu terakhir adalah kenaikan harga minyak dunia. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong harga energi naik, yang pada gilirannya meningkatkan biaya produksi karet sintetis berbasis minyak. Kondisi ini membuat sebagian industri, terutama sektor ban, kembali meningkatkan penggunaan karet alam.
Namun demikian, pasar juga mulai memperhitungkan potensi peningkatan pasokan dalam waktu dekat. Negara-negara produsen utama diperkirakan memasuki musim produksi yang lebih tinggi mulai April, setelah periode wintering pada Februari hingga Maret ketika produksi lateks cenderung menurun.
Jika produksi benar-benar meningkat dalam beberapa minggu ke depan, sejumlah analis memperkirakan harga karet global dapat menghadapi tekanan dalam jangka pendek, meskipun permintaan dari industri manufaktur dan otomotif masih relatif stabil.